MODUL AJAR BAHASA JAWA FASE E MATERI AKSARA JAWA
MODUL AJAR BAHASA JAWA
KELAS
X
AKSARA
JAWA
Bagian I : Informasi Umum
Nama Penyusun : Afidatus Solikah, S.Pd.
Nama Sekolah : SMK Al Mustaqim
Fase/Kelas : E / X Semua Jurusan
Capaian Pembelajaran : 1. Peserta didik mampu memahami kaidah penulisan
teks aksara jawa melalui kegiatan membaca teks aksara jawa (misalnya:
nglegena-pasangan/ sandhangan/ angka/ swara/ murda/ rekan/ lainnya)
2. Peserta didik mampu menulis gagasan dan
pikiran dalam bentuk teks aksara jawa dengan memperhatikan kaidah penulisan
aksara Jawa.
Jumlah Pertemuan : 9 kali pertemuan
Alokasi Waktu : 18 JP (@ 45 Menit)
Kompetensi Awal : Aksara Jawa
Profil Pelajar Pancasila : Berfikir Kritis,
Mandiri, Kreatif
Sarana Prasarana : 1. Papan tulis
2. Spidol
3. Komputer/Laptop
4. Jaringan Internet
5. LCD Proyektor
Target Peserta Didik : 1. Menulis teks aksara jawa
2.
Membaca teks aksara jawa
Model Pembelajaran : Discovery Learning
Moda Pembelajaran : Daring / Luring
Metode Pembelajaran : Diskusi, tanya jawab,
presentasi
Sumber Pembelajaran : Buku Paket, Modul,
Internet dan Lainnya
Media Pembelajaran : PPT dan Modul
Bagian II : Kompetensi Inti
|
Tujuan
Pembelajaran |
1. Mengidentifikasi
Aksara Jawa legana, pasangan, dan sandhangan berdasarkan berbagai sumber
referensi 2. Membedakan
beberapa sandhangan swara dengan bunyi aksara vokal. 3. Menganalisis
penggunaan aksara nglegena dan pasangan, aksara Jawa nglegena, sandhangan dan
pasangan. 4. Mengimplementasikan
penggunaan aksara Jawa legana, pasangan, dan sandhangan dalam sebuah paragraf
beraksara Jawa dengan benar 5. Menyajikan
tulisan beraksara Jawa legana, pasangan, dan sandhangan dalam sebuah paragraf
beraksara Jawa dengan benar. |
|
Asesmen |
1. Asesmen
Formatif : Lembar Kerja Peserta Didik 2. Asesmen
Sumatif : Soal Latihan |
|
Pemahaman
Bermakna |
Aksara jawa, pasangan,
dan sandhangan berguna
untuk dalam penulisan sebuah paragraf beraksara Jawa dengan benar |
|
Pertanyaan
Pematik |
1. Apakah kalian masih ingat
aksara jawa? 2. Apakah kalian masih ingat
pasangan aksara jawa ? 3. Apakah kalian masih ingat
sandhangan aksara jawa ? |
|
Kegiatan
Pembelajaran |
|
|
Kegiatan Awal (15 Menit) 1.
Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama. 2.
Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama
dengan guru. 3.
Peserta didik bersama dengan guru membahas tentang kesepakatan
yang akan diterapkan dalam pembelajaran 4.
Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pematik: a.
Apakah kalian masih ingat
aksara jawa? b.
Apakah kalian masih ingat
pasangan aksara jawa ? c.
Apakah kalian masih ingat
sandhangan aksara jawa ? Kegiatan Inti (150 Menit) Orientasi Siswa 5.
Peserta didik diminta untuk mengamati media pembelajaran materi aksara Jawa legena
dengan penerapan sandhangan dan pasangan yang ditayangkan
di slide powerpoint. (mengamati) 6.
Peserta didik bertanya jawab tentang materi tersebut. (Menanya,
Mengeksplore, Collaboration, Gotong Royong, Critical thinking, HOTS). Mengorganisasi Siswa dalam Belajar 7.
Guru membagi peserta didik menjadi 4 kelompok secara heterogen. 8.
Guru membagikan LKPD tentang membaca 1 paragraf berhuruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan. 9.
Peserta didik mengamati LKPD tentang membaca 1 paragraf berhuruf Jawa dengan
penerapan sandhangan dan
pasangan. 10.
Peserta didik
berdiskusi dengan kelompoknya dan menyelesaikan tugasnya
masing-masing Membimbing Penyelidikan Siswa secara Kelompok 11.
Guru membimbing dan memotivasi agar peserta
didik bekerjasama dengan kelompoknya. 12.
Peserta didik bersama kelompoknya berdiskusi tentang
membaca huruf Jawa
dengan penerapan sandhangan
dan pasangan. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil
Karya 13.
Peserta didik menyiapkan laporan hasil diskusi
kelompok secara rapi, sistematis dan rinci. 14.
Peserta didik secara bergantian
mempresentasikan hasil
diskusi kelompoknya tentang
membaca huruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan
pasangan. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses
Pemecahan Masalah 15.
Peserta didik dari kelompok lain memberikan tanggapan tentang
hasil diskusi. 16.
Guru memberikan tanggapan hasil presentasi dan
melengkapi informasi
tambahan. 17.
Peserta didik mengerjakan soal evaluasi individu membaca 1 paragraf berhuruf Jawa. Kegiatan Penutup (10 Menit) 18.
Perserta didik bersama-sama dengan guru membuat kesimpulan
pembelajaran hari itu. 19.
Guru dan peserta
didik melakukan refleksi atas pembelajaran yang
sudah dilalui: a.
Dinten menika kita sampun nyinaoni bab menapa? b. Materi ingkang pundi
ingkang dereng paham? c.
Medianipun sae
napa boten? d.
Bageyan ngendi sing
paling disenengi bocah-
bocah? 20.
Guru menyampaikan rencana pembelajaran yang akan dipelajari pada
pertemuan berikutnya. 21.
Guru memberikan motivasi untuk belajar dan selalu mengingatkan
5M kemudian menutup dengan salam
dan doa. |
|
|
Refleksi
Peserta Didik Dan
Pendidik |
1.
Apakah ada
kendala pada kegiatan pembelajaran? 2.
Apakah
semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran? 3.
Apa saja kesulitan siswa yang dapat diidentifikasi pada kegiatan pembelajaran? 4.
Apakah siswa yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik? 5.
Apa level
pencapaian rata-rata siswa dalam kegiatan pembelajaran ini? 6.
Apakah seluruh siswa dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan
pembelajaran? 7.
Apa
strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi? |
Baian
III : LAMPIRAN
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Nama :
Kelas :
No. Absen :
1.
k[ton Hpik\ wacane ...
a.
Katon apik
b.
Katon elek
c.
Katon padang
d.
Katon jembar
e.
Katon apek
2.
Tulisan aksara Jawa
"mangan nanas" yaitu ...
a.
mgnnns\
b.
mznNns\
c.
mgnNns\
d.
mznNns
e.
mgnnns
3.
ankPitik\
artinya
...
a.
Anak kadhal
b.
Anak pitik
c.
Anak bojo
d.
Pitik siji
e.
Kadhal loro
4.
bju
bru wacane ...
a.
Baju biru
b.
Batu bata
c.
Baju baru
d.
Buku baru
e.
Buku biru
5.
Penulisan sandhangan
“r” yang benar dalam aksara Jawa adalah ...
a.
… u
b.
… i
c.
… e
d.
[…o
e.
…/
6.
"Makan nasi pagi
hari" jika ditulis dalam aksara Jawa menjadi ...
7.
Tuliskan pasangan
dari aksara “ha na ca ra ka” !
8.
Tuliskan dalam asara
jawa “dipun sebul” !
9.
Tuliskan dalam asara
jawa “pakdhe sardi ngunjuk kopi” !
10. Tuliskan dalam asara jawa
“dicokot semut gedhe tenan” !
PENGAYAAN DAN REMIDIAL
SOAL PENGAYAAN
1.
Peserta didik
bisa mencari cerita Ramayana Kidang Kencana kemudian salinlah ke dalam
penulisan aksara Jawa dari internet.
SOAL REMIDIAL
1. Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan
kembali oleh guru materi aksara jawa. Kemudian guru akan melakukan penilaian
kembali dengan soal yang berbeda namun masih setara. Remedial dilaksanakan pada
waktu sesuai kesepakatan dengan peserta didik diluar jam pembelajaran
Bahan
Bacaan Pendidik dan Peserta Didik
AKSARA JAWA
Aksara
Jawa - Bagian-bagian pada aksara Jawa menurut penerapannya dibedakan
menjadi 4 golongan, yaitu;
1.
Aksara Jawa yang berwujud wanda
Legena. Artinya wanda legena yaitu suku kata berakhiran tetap yaitu a saja.
Aksara legena yang sering disebut dengan aksara jawa carakan ini berjumlah 20
aksara dan pasangannya juga berjumlah 20 aksara.
2.
Aksara murda atau aksara gedhe jumlahnya ada 8 aksara.
3.
Aksara suwara atau aksara vocal jumlahnya ada 5
aksara.
4.
Aksara rekan atau aksara rekakan, jumlahnya ada 5 aksara.
AKSARA JAWA LEGENA/CARAKAN
Masarakat Jawa duwe kabudayan
kang duwe bab basa lan aksara. Basane yakuwi Basa Jawa, lan aksarane sinebut
Aksara Jawa kang kaloka kanthi sesebutan “hanacaraka”. Sesebutan liya kanggo
Aksara Jawa yakuwi “carakan” (Poerwadarminta, 1939:626) sing ngemu teges
‘urut-urutane Aksara Jawa, urut saka ha na ca ra ka’.
Aksara Jawa iku cacahe ana 20
(rong puluh). Saben aksara diucapake kanthi silabis utawa wanda utawa ‘suku
kata’. Ing kene wanda duwe teges gabungan antarane konsonan lan sandhangan
swara /a/. Dene urut-urutane yakuwi: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la,
pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Dene wujude kaya ing ngisor iki.
Panulisane Aksara Legena/ Carakan
|
a ha |
n na |
c ca |
r ra |
k ka |
|
f da |
t ta |
s sa |
w wa |
l la |
|
p pa |
d dha |
j ja |
y ya |
v nya |
|
m ma |
g ga |
b ba |
q tha |
z nga |
Ing ndhuwur
iku diarani aksara legena, aksara legena yaiku aksara Jawa sing durung
kawuwuhan sandhangan (I,u, e, o), pasangan. Cacahe aksara legena/carakan iki
ana 20.
Rong puluh Aksara Jawa kang
kaya ing dhuwur iku sinebut aksara legena lan ana sing ngarani kanthi sebutan
nglegena. Aksara legena utawa nglegena iku tegese aksara kang durung diwenehi
pasangan lan patang sandhangan (swara, panyigeging wanda, wyanjana, lan pangku
utawa pangkon) utawa kaya sing disebutake ing Kamus Baoesastra Djawa
(Poerwadarminta, 1939:269) bilih aksara legena yakuwi ’aksara sing tanpa
sandhangan’, dene tegese nglegena kuwi ‘wuda, bares, utawa wantahan’ utawa bisa
diarani tanpa nganggo apa- apa, lugu, tanpa rerenggan, lan apa anane.
Tuladha
Panulisan Aksara legena
Panulisan aksara iki gampang wae, dadi mung kari nulis kaya
dene wujud aksarane. Kaya tuladha ing ndhuwur, nalika arep nulis nata mung kari
nggoleki lan nulis aksara na dijejerne aksara ta.
(penulisan aksara legena ini
sebenarnya sangat gampang, jadi tinggal menulisa seperti bentuk aksaranya.
Seperti pada contoh diatas. Ketika akan menulis Nata, hanya tinggal mencari
aksara legena Na dan setelah itu aksara legena Ta yang ditulis setelahnya)
PASANGAN
Ada beberapa catatan dalam penggunaan
aksara Nglegena ini menurut Darusuprapta (2002:10) :
1. Aksara
pasangan ha, sa, dan pa ditulis
dibelakang huruf konsonan akhir suku kata di depannya. Aksara pasangan selain
yang disebutkan itu ditulis di bawah aksara konsonan akhir suku kata di
depannya.
2. Aksara ha, ca, ra, wa, dha, ya, tha,
dan nga tidak dapat diberi aksara pasangan atau tidak dapat
menjadi aksara sigegan (aksara penutup suku kata). Di dalam
hal ini aksara sigegan ha diganti dengan wignyan,
aksara sigegan ra diganti layar, aksara sigegan
nga diganti cecak, dan hampir tidak ada suku kata yang
berakhir sigegan ca, wa, dha, ya, tha.
Contoh pemakaian aksara Nglegena dan pasangan
aja = aj
maca = mc
kartana = krTn
AKSARA MURDA
a) Aksara murda berjumlah
delapan buah, yakni na, ka, ta, sa, pa, nya, ga, ba.
b) Aksara murda dapat
dipakai untuk menuliskan nama gelar dan nama diri, nama geografi, nama lembaga
pemerintah, dan nama lembaga berbadan hukum.
c) Aksara murda tidak
dipakai sebagai penutup suku kata. (Darusuprapta, 2002:11-12)
Berikut ini adalah aksara
murda beserta pasangannya yang berjumlah 8 buah :
Tabel Aksara Murda
|
Wujud Aksara |
! |
@ |
# |
$ |
% |
^ |
& |
* |
|
Nama Aksara |
Na |
Ka |
Ta |
Sa |
Pa |
Nya |
Ga |
Ba |
Catatan :
Aksara murda jumlahnya terbatas, tidak semua
aksara yang terdaftar didalam carakan ada aksara murdanya.
Oleh karena itu, pemakaian aksara murda tidak identik dengan pemakaian huruf
kapital di dalam ejaan Latin. (Darusuprapta, 2002:13)
Contoh penggunaan aksara Murda :
Nabi Nuh !bi!uh
Tawangmangu #w=mzu
AKSARA SWARA
1. Aksara suara
(aksara swara) berjumlah lima buah, yakni : (a), (e), (i), (o), (u)
2. Aksara suara digunakan untuk
menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari
bahasa asing, untuk mempertegas pelafalannya.
3. Aksara suara tidak dapat
dijadikan sebagai aksara pasangan sehingga aksara sigegan yang
terdaftar di depannya haris dimatikan dengan pangkon.
4. Aksara suara dapat
diberi Sandangan wignyan, layar, dan cecak. (Darusuprapta,
2002:14).
Berikut ini adalah aksara swara yang berjumlah 5
buah :
Tabel Aksara Swara
|
Wujud Aksara
Swara |
A |
I |
U |
E |
O |
|
Nama Aksara
Swara |
A |
I |
U |
E |
O |
Contoh penggunaan aksara swara :
Eropa E[rop
Organ O rGn\
AKSARA REKAN (AKSARA REKAAN)
1. Aksara rekaan (aksara rekan)
berjumlah lima buah, yakni : kha, dza, fa/va, za, gha.
2. Aksara rekaan dipakai untuk
menuliskan aksara konsonan pada kata-kata asing yang masih dipertahankan
seperti aslinya.
3. Aksara rekaan dapat menjadi
aksara pasangan, dapat diberi pasangan, serta dapat diberi sandhangan.
Berikut ini adalah aksara rekaan beserta
pasangannya yang berjumlah 5 buah :
Tabel Aksara rekaan beserta pasangannya
Contoh penggunaan aksara rekaan :
Ghazali g+j+li
Zakat j+kt\
SANDHANGAN
A.
Pengertian
Sandhangan yaiku tandha sing dianggo supaya ana unen-unen
vokal saliyane /a/, bisa uga kanggo njangkepi utawa mateni wanda supaya bisa
muni kaya tembung sing diucapake.
B.
Sandhangan

Vokal a di dalam bahasa Jawa
mempunyai dua macam varian, yakni /o/ dan /a/.
1. Vokal a dilafalkan /o/, seperti pada
kata bom, tolong, pokok, tokoh di dalam bahasa Indonesia,
misalnya :
ana : an
dawa :
tw
2. Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada
kata pas, ada, siapa, semua di dalam bahasa Indonesia, misalnya :
abang ab=
dalan fln\
Sandangan aksara
Jawa dapa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Sandangan swara (Sandangan
bunyi vokal)
2. Sandangan panyigeg wanda (Sandangan
konsonan penutup suku kata)
3. Sandangan wyanjana (Sandangan
pembuka suku kata)
Secara rinci seperti di bawah ini :
1. Sandangan swara (Sandangan
bunyi vokal) yang terdiri atas lima macam, yakni:
a.
Sandangan
wulu (…i.)
Sandangan wulu dipakai
untuk melambangkan vokal (i) di dalam suku kata. Sandangan
wulu ditulis di atas bagian akhir aksara. Apabila selain wulu juga
terdapat sandangan yang lain, sandangan wulu digeser ke kiri.
Contoh penggunaan sandangan wulu :
siji siji bathi bqi wingi wizi
b.
Sandangan
pepet (…e.)
Sandangan pepet dipakai
untuk melambankan vokal /e/ di dalam suku kata. Sandangan pepet ditulis
di atas bagian akhir aksara. Apabila selain pepet terdapat
sandangan yang lain, sandangan pepet digeser ke kiri. Sandangan pepet tidak
dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang
bukan sebagai pasangan. Sebab suku kata re yang bukan pasangan
dilambangkan dengan pa cerek dan le yang
bukan pasangan dilambangkan dengan nga lelet.
Contoh penggunaan sandangan pepet :
segara segr legi Xgi
c. Sandangan
suku (….u )
Sandangan
suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung
dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata, atau vocal u yang tidak ditulis
dengan aksara swara. Sandangan suku ditulis serangkai di bawah bagian akhir
aksara yang mendapat sandangan itu.
Contoh
pengunaan sandangan suku :
watu wtu gunung gunu=
d. Sandangan taling (…[.)
Sandangan
taling dipakai untuk melambangkan bunyi vokal e atau e yang tidak
ditulis dengan aksara swara e, yang bergabung dengan bunyi
konsonan di dalam suku kata. Sandangan taling ditulis di depan
aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh
penggunaan sandangan taling :
kene [k[n dhewe [d[w
e. Sandangan taling tarung ([…o)
Sandangan
taling tarung dipakai
untuk melambangkan bunyi vokal o yang tidak ditulis dengan aksara swara o,
yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suku kata. Sandangan
taling tarung ditulis mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan
taling tarung :
bodho [bo[do ijo ai[jo
2. Sandangan panyigeg wanda (Sandangan konsonan penutup suku kata)
Sandangan penanda konsonan penutup suku kata (sandangan
panyigeg wanda) terdiri atas empat mcam, yakni :
a.
Sandagan Wignyan (….h)
Sandangan wignyan adalah penganti sigegag ha yaitu sandangan yang
dipakai untuk melambangkan konsonan h penutup suku kata. Penulisan wignyan diletakkan
di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan wignyan :
gagah ggh cahya chy
b. Sandangan Layar (…../)
Sandangan layar adalah pengganti sigegan ra yaitu sandangan yang
dipakai untuk melambangkan konsonan r penutup suku kata. Sandangan
layar ditulis di atas bagian akhir aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan
layar :
pager pge/ tirta ti/t
c. Sandangan Cecak (…...=)
Sandangan cecak adalah pengganti sigegan nga yaitu sandangan yang
dipakai untuk melambangkan konsonan ng penutup suku kata. Sandangan
cecak ditulis di atas bagian akhir aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan cecak :
jangkah j=kh walang wl=
d. Sandangan Pangkon (…..\)
Sandangan pangkon dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan
pangkon itu merupakan aksara mati, aksara konsonan penutup suku kata,
atau aksara panyigeg ing wanda. Sandangan pangkon ditulis
di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. Sandangan pangkon dapat dipakai
sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai, senilai dengan
tanda koma di dalam ejaan Latin.
Contoh penggunaan sandangan pangkon :
adus afus\ pangan pzn\
3. Sandangan wyanjana (Sandangan penanda gugus konsonan)
Menurut Darusuprapta (2002:29), sandangan
penanda gugus konsonan merupakan penanda asara konsonan yang diletakkan pada
aksara konsonan lain di dalam suatu suku kata. Pendanda gugus konsonan di dalam
aksara Jawa terdiri atas lima macam, yakni :
a.
Cakra (…..])
Tanda cakra merupakan penanda
gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda cakra ditulis
serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra tersebut.
Aksara yang sudah bertanda cakra dapat diberi sandangan selain pepet dan
tidak dapat diberi penanda gugus konsonan yang lain. Aksara bertanda cakra yang
mendapat pepet diganti dengan keret
Contoh penggunaan cakra :
sasra ss] krawu k]wu
b.
Keret (….})
Tanda keret dipakai untu
melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r yang diikuti vokal e
/e atau sebagai pengganti tanda cakra yang mendapatkan
penambahan sandangan pepet. Tanda keret ditulis
serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda keret itu.
Contoh penggunaan keret :
kreteg k}teg\ brengos b}[zos\
c.
Pengkal (…..-)
Tanda pengkal dipakai untuk
melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan laian di dalam suatu
suku kata. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara
yang diberi tanda pengkal itu.
Contoh penggunaan pengkal :
kyai k-ai tyas t-s\
GLOSARIUM
Aksara adalah suatu sistem simbol
visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya untuk mengungkapkan unsur-unsur yang ekspresif dalam suatu
bahasa..
Legana adalah 20 huruf dasar aksara Jawa.
Pasangan adalah 20 huruf pasangan bagi aksara legana.
Sandhangan adalah simbol atau penanda
yang dapat digunakan sebagai pengubah vokal dasar aksara legana.
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku
pelatihan untuk siswa
2. Buku
pelatihan untuk guru
3. Internet

Komentar
Posting Komentar