MODUL AJAR BAHASA JAWA FASE E MATERI AKSARA JAWA

 

MODUL AJAR BAHASA JAWA

KELAS X

 

AKSARA JAWA

 

Bagian I : Informasi Umum

 

Nama Penyusun                        :  Afidatus Solikah, S.Pd.

Nama Sekolah                           :  SMK Al Mustaqim

Fase/Kelas                                :  E / X Semua Jurusan

Capaian Pembelajaran             :  1.  Peserta didik mampu memahami kaidah penulisan teks aksara jawa melalui kegiatan membaca teks aksara jawa (misalnya: nglegena-pasangan/ sandhangan/ angka/ swara/ murda/ rekan/ lainnya)

                                                    2.  Peserta didik mampu menulis gagasan dan pikiran dalam bentuk teks aksara jawa dengan memperhatikan kaidah penulisan aksara Jawa.

Jumlah Pertemuan                   :  9 kali pertemuan

Alokasi Waktu                           :  18 JP (@ 45 Menit)

Kompetensi Awal                     :  Aksara Jawa

Profil Pelajar Pancasila             :  Berfikir Kritis, Mandiri, Kreatif

Sarana Prasarana                     :  1.  Papan tulis

                                                    2.  Spidol

                                                    3.  Komputer/Laptop

                                                    4.  Jaringan Internet

                                                    5.  LCD Proyektor

Target Peserta Didik                 :  1.  Menulis teks aksara jawa

                                                    2. Membaca teks aksara jawa

Model Pembelajaran               :  Discovery Learning

Moda Pembelajaran                :  Daring / Luring

Metode Pembelajaran             :  Diskusi, tanya jawab, presentasi

Sumber Pembelajaran             :  Buku Paket, Modul, Internet dan Lainnya

Media Pembelajaran                :  PPT dan Modul

 


 

Bagian II : Kompetensi Inti

 

Tujuan Pembelajaran

1.   Mengidentifikasi Aksara Jawa legana, pasangan, dan sandhangan berdasarkan berbagai sumber referensi

2.   Membedakan beberapa sandhangan swara dengan bunyi aksara vokal.

3.   Menganalisis penggunaan aksara nglegena dan pasangan, aksara Jawa nglegena, sandhangan dan pasangan.

4.   Mengimplementasikan penggunaan aksara Jawa legana, pasangan, dan sandhangan dalam sebuah paragraf beraksara Jawa dengan benar

5.   Menyajikan tulisan beraksara Jawa legana, pasangan, dan sandhangan dalam sebuah paragraf beraksara Jawa dengan benar.

Asesmen

1.   Asesmen Formatif : Lembar Kerja Peserta Didik

2.   Asesmen Sumatif   : Soal Latihan

Pemahaman Bermakna

Aksara jawa, pasangan, dan sandhangan berguna untuk dalam penulisan sebuah paragraf beraksara Jawa dengan benar

Pertanyaan Pematik

1.   Apakah kalian masih ingat aksara jawa?

2.   Apakah kalian masih ingat pasangan aksara jawa ?

3.   Apakah kalian masih ingat sandhangan aksara jawa ?

Kegiatan Pembelajaran

 

Kegiatan Awal (15 Menit)

1.             Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama.

2.             Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama dengan guru.

3.             Peserta didik bersama dengan guru membahas tentang kesepakatan yang akan diterapkan dalam pembelajaran

4.             Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pematik:

a.             Apakah kalian masih ingat aksara jawa?

b.             Apakah kalian masih ingat pasangan aksara jawa ?

c.              Apakah kalian masih ingat sandhangan aksara jawa ?

Kegiatan Inti (150 Menit)

Orientasi Siswa

5.             Peserta didik diminta untuk mengamati media pembelajaran materi aksara Jawa legena dengan penerapan sandhangan dan pasangan yang ditayangkan di slide powerpoint. (mengamati)

6.             Peserta didik bertanya jawab tentang materi tersebut. (Menanya, Mengeksplore, Collaboration, Gotong Royong, Critical thinking, HOTS).

Mengorganisasi Siswa dalam Belajar

7.             Guru membagi peserta didik menjadi 4 kelompok secara heterogen.

8.             Guru membagikan LKPD tentang membaca 1 paragraf berhuruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan.

9.             Peserta didik mengamati LKPD tentang membaca 1 paragraf berhuruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan.

10.      Peserta didik berdiskusi dengan kelompoknya dan menyelesaikan tugasnya masing-masing

Membimbing Penyelidikan Siswa secara Kelompok

11.      Guru membimbing dan memotivasi agar peserta didik bekerjasama dengan kelompoknya.

12.      Peserta didik bersama kelompoknya berdiskusi tentang membaca huruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan.

 

Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya

13.      Peserta didik menyiapkan laporan hasil diskusi kelompok secara rapi, sistematis dan rinci.

14.      Peserta didik secara bergantian mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya tentang membaca huruf Jawa dengan penerapan sandhangan dan pasangan.

Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah

15.      Peserta didik dari kelompok lain memberikan tanggapan tentang hasil diskusi.

16.      Guru memberikan tanggapan hasil presentasi dan melengkapi informasi tambahan.

17.      Peserta didik mengerjakan soal evaluasi individu membaca 1 paragraf berhuruf Jawa.

Kegiatan Penutup (10 Menit)

18.      Perserta didik bersama-sama dengan guru membuat kesimpulan pembelajaran hari itu.

19.      Guru dan peserta didik melakukan refleksi atas pembelajaran yang sudah dilalui:

a.      Dinten menika kita sampun nyinaoni bab menapa?

b.      Materi ingkang pundi ingkang dereng paham?

c.       Medianipun sae napa boten?

d.      Bageyan ngendi sing paling disenengi bocah- bocah?

20.      Guru menyampaikan rencana pembelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

21.      Guru memberikan motivasi untuk belajar dan selalu mengingatkan 5M kemudian menutup dengan salam dan doa.

Refleksi Peserta Didik

Dan Pendidik

1.              Apakah ada kendala pada kegiatan pembelajaran?

2.              Apakah semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran?

3.              Apa saja kesulitan siswa yang dapat diidentifikasi pada kegiatan pembelajaran?

4.              Apakah siswa yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik?

5.              Apa level pencapaian rata-rata siswa dalam kegiatan pembelajaran ini?

6.              Apakah seluruh siswa dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan pembelajaran?

7.              Apa strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi?

 


 

Baian III : LAMPIRAN

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

 

Nama              :

Kelas               :

No. Absen        :

 


1.      k[ton Hpik\ wacane ...

a.      Katon apik

b.      Katon elek

c.       Katon padang

d.      Katon jembar

e.      Katon apek

2.      Tulisan aksara Jawa "mangan nanas" yaitu ...

a.      mgnnns\

b.      mznNns\

c.       mgnNns\

d.      mznNns

e.      mgnnns

3.      ankPitik\ artinya ...

a.      Anak kadhal

b.      Anak pitik

c.       Anak bojo

d.      Pitik siji

e.      Kadhal loro

4.      bju bru  wacane ...

a.      Baju biru

b.      Batu bata

c.       Baju baru

d.      Buku baru

e.      Buku biru

5.      Penulisan sandhangan “r” yang benar dalam aksara Jawa adalah ...

a.      u

b.        i

c.         e

d.      [o

e.      /

6.      "Makan nasi pagi hari" jika ditulis dalam aksara Jawa menjadi ...

7.      Tuliskan pasangan dari aksara “ha na ca ra ka” !

8.      Tuliskan dalam asara jawa “dipun sebul” !

9.      Tuliskan dalam asara jawa “pakdhe sardi ngunjuk kopi” !

10.  Tuliskan dalam asara jawa
 “dicokot semut gedhe tenan” !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 


 

PENGAYAAN DAN REMIDIAL

 

SOAL PENGAYAAN

1.      Peserta didik bisa mencari cerita Ramayana Kidang Kencana kemudian salinlah ke dalam penulisan aksara Jawa dari internet.

 

SOAL REMIDIAL

1.       Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi aksara jawa. Kemudian guru akan melakukan penilaian kembali dengan soal yang berbeda namun masih setara. Remedial dilaksanakan pada waktu sesuai kesepakatan dengan peserta didik diluar jam pembelajaran

Bahan Bacaan Pendidik dan Peserta Didik

 

AKSARA JAWA

 

Aksara Jawa - Bagian-bagian pada aksara Jawa menurut penerapannya dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu;

1.      Aksara Jawa yang berwujud wanda Legena. Artinya wanda legena yaitu suku kata berakhiran tetap yaitu a saja. Aksara legena yang sering disebut dengan aksara jawa carakan ini berjumlah 20 aksara dan pasangannya juga berjumlah 20 aksara.

2.      Aksara murda atau aksara gedhe jumlahnya ada 8 aksara.

3.      Aksara suwara atau aksara vocal jumlahnya ada 5 aksara.

4.      Aksara rekan atau aksara rekakan, jumlahnya ada 5 aksara.

 

AKSARA JAWA LEGENA/CARAKAN

 

       Masarakat Jawa duwe kabudayan kang duwe bab basa lan aksara. Basane yakuwi Basa Jawa, lan aksarane sinebut Aksara Jawa kang kaloka kanthi sesebutan “hanacaraka”. Sesebutan liya kanggo Aksara Jawa yakuwi “carakan” (Poerwadarminta, 1939:626) sing ngemu teges ‘urut-urutane Aksara Jawa, urut saka ha na ca ra ka’.

       Aksara Jawa iku cacahe ana 20 (rong puluh). Saben aksara diucapake kanthi silabis utawa wanda utawa ‘suku kata’. Ing kene wanda duwe teges gabungan antarane konsonan lan sandhangan swara /a/. Dene urut-urutane yakuwi: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Dene wujude kaya ing ngisor iki.

 

Panulisane Aksara Legena/ Carakan

a

ha

n

na

c

ca

r

ra

k

ka

f

da

t

ta

s

sa

w

wa

l

la

p

pa

d

dha

j

ja

y

ya

v

nya

m

ma

g

ga

b

ba

q

tha

z

nga

 

Ing ndhuwur iku diarani aksara legena, aksara legena yaiku aksara Jawa sing durung kawuwuhan sandhangan (I,u, e, o), pasangan. Cacahe aksara legena/carakan iki ana 20.

       Rong puluh Aksara Jawa kang kaya ing dhuwur iku sinebut aksara legena lan ana sing ngarani kanthi sebutan nglegena. Aksara legena utawa nglegena iku tegese aksara kang durung diwenehi pasangan lan patang sandhangan (swara, panyigeging wanda, wyanjana, lan pangku utawa pangkon) utawa kaya sing disebutake ing Kamus Baoesastra Djawa (Poerwadarminta, 1939:269) bilih aksara legena yakuwi ’aksara sing tanpa sandhangan’, dene tegese nglegena kuwi ‘wuda, bares, utawa wantahan’ utawa bisa diarani tanpa nganggo apa- apa, lugu, tanpa rerenggan, lan apa anane.

 

 

Tuladha Panulisan Aksara legena

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj656P6aSgYkN4qetWItb_m_DN-iLaKGS01Hx33Mh5FQ5Ike85BaY0AEDy-sqggHfUuWv0YxB4n8_O36d8uJy8KAHu-Af4xJ-Dhett-BnnNn5VsQ9GAOQ_cpX46BWixGbhnZyq-20q8vZ8f/s0/freesnippingtool.com_capture_20200805111322.jpgPanulisan aksara iki gampang wae, dadi mung kari nulis kaya dene wujud aksarane. Kaya tuladha ing ndhuwur, nalika arep nulis nata mung kari nggoleki lan nulis aksara na dijejerne aksara ta.

(penulisan aksara legena ini sebenarnya sangat gampang, jadi tinggal menulisa seperti bentuk aksaranya. Seperti pada contoh diatas. Ketika akan menulis Nata, hanya tinggal mencari aksara legena Na dan setelah itu aksara legena Ta yang ditulis setelahnya)

 

 

PASANGAN

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6Oei6_RpAO2tuPYB8Kgi3l6qUZQ5dOU2yWdlave2laIGMr-Je4fvrLdfzqaVDCQ9cOFH_GEvjN4Qg2o64Vq6OswS6gbZQL2DLz4zmuvKAD-rvWEYYkJhBpP11Rt1ck-L688n7eLNGV7M/s320/PASANGAN+nglegena.gifAda beberapa catatan dalam penggunaan aksara Nglegena ini menurut Darusuprapta (2002:10) :

1.      Aksara pasangan hasa, dan pa ditulis dibelakang huruf konsonan akhir suku kata di depannya. Aksara pasangan selain yang disebutkan itu ditulis di bawah aksara konsonan akhir suku kata di depannya.

2.      Aksara hacarawadhayatha, dan nga tidak dapat diberi aksara pasangan atau tidak dapat menjadi aksara sigegan (aksara penutup suku kata). Di dalam hal ini aksara sigegan ha diganti dengan wignyan, aksara sigegan ra diganti layar, aksara sigegan nga diganti cecak, dan hampir tidak ada suku kata yang berakhir sigegan cawadhayatha.

Contoh pemakaian aksara Nglegena dan pasangan

aja                        = aj

maca                     = mc

kartana                 = krTn

AKSARA MURDA

a)      Aksara murda berjumlah delapan buah, yakni na, ka, ta, sa, pa, nya, ga, ba.

b)      Aksara murda dapat dipakai untuk menuliskan nama gelar dan nama diri, nama geografi, nama lembaga pemerintah, dan nama lembaga berbadan hukum.

c)      Aksara murda tidak dipakai sebagai penutup suku kata. (Darusuprapta, 2002:11-12)

Berikut ini adalah aksara murda beserta pasangannya yang berjumlah 8 buah :

 

Tabel Aksara Murda

Wujud Aksara

!

@

#

$

%

^

&

*

Nama Aksara

Na

Ka

Ta

Sa

Pa

Nya

Ga

Ba

Catatan :

Aksara murda jumlahnya terbatas, tidak semua aksara yang terdaftar didalam carakan ada aksara murdanya. Oleh karena itu, pemakaian aksara murda tidak identik dengan pemakaian huruf kapital di dalam ejaan Latin. (Darusuprapta, 2002:13)

Contoh penggunaan aksara Murda :

Nabi Nuh                     !bi!uh

Tawangmangu             #w=mzu

 

AKSARA SWARA

 

1.      Aksara suara (aksara swara) berjumlah lima buah, yakni : (a), (e), (i), (o), (u)

2.      Aksara suara digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari bahasa asing, untuk mempertegas pelafalannya.

3.      Aksara suara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan sehingga aksara sigegan yang terdaftar di depannya haris dimatikan dengan pangkon.

4.      Aksara suara dapat diberi Sandangan wignyan, layar, dan cecak. (Darusuprapta, 2002:14).

Berikut ini adalah aksara swara yang berjumlah 5 buah :

 

Tabel Aksara Swara

Wujud Aksara Swara

A

I

U

E

O

Nama Aksara Swara

A

I

U

E

O

 

Contoh penggunaan aksara swara :

Eropa               E[rop

Organ              O rGn\

 

AKSARA REKAN (AKSARA REKAAN)

 

1.      Aksara rekaan (aksara rekan) berjumlah lima buah, yakni : kha, dza, fa/va, za, gha.

2.      Aksara rekaan dipakai untuk menuliskan aksara konsonan pada kata-kata asing yang masih dipertahankan seperti aslinya.

3.      Aksara rekaan dapat menjadi aksara pasangan, dapat diberi pasangan, serta dapat diberi sandhangan.


 

Berikut ini adalah aksara rekaan beserta pasangannya yang berjumlah 5 buah :

Tabel Aksara rekaan beserta pasangannya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg04L9Dpkh074mneg5we7PSeHfQV6tP80DtecOcuPRuiRHvMpBQUSYfmjZPvQR57erM24gsv7MfPjAl9QdOg0w4KLd_m7se3buM0Xsbr4Dt5HhaLi-MVVLBfVgRcQDLKkbgSE-K9IaHsy4/s320/aksara-rekan-dan-pasangan-aksara-rekan.jpg

 

Contoh penggunaan aksara rekaan :

Ghazali            g+j+li         

Zakat               j+kt\

 

SANDHANGAN

A.      Pengertian

Sandhangan yaiku tandha sing dianggo supaya ana unen-unen vokal saliyane /a/, bisa uga kanggo njangkepi utawa mateni wanda supaya bisa muni kaya tembung sing diucapake.

 

B.      Sandhangan

 

 

Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunyai dua macam varian, yakni /o/ dan /a/.

1.      Vokal a dilafalkan /o/, seperti pada kata bom, tolong, pokok, tokoh di dalam bahasa Indonesia, misalnya :

ana                  :        an

dawa               :        tw

2.      Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada kata pas, ada, siapa, semua di dalam bahasa Indonesia, misalnya :

abang                      ab=

dalan                       fln\

Sandangan aksara Jawa dapa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :

1.      Sandangan swara (Sandangan bunyi vokal)

2.      Sandangan panyigeg wanda (Sandangan konsonan penutup suku kata)

3.      Sandangan wyanjana (Sandangan pembuka suku kata)

Secara rinci seperti di bawah ini :

1.    Sandangan swara (Sandangan bunyi vokal) yang terdiri atas lima macam, yakni:

a.      Sandangan wulu (…i.)

Sandangan wulu dipakai untuk melambangkan vokal (i) di dalam suku kata. Sandangan wulu ditulis di atas bagian akhir aksara. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain, sandangan wulu digeser ke kiri.

Contoh penggunaan sandangan wulu :

siji                    siji             bathi                bqi             wingi               wizi

b.      Sandangan pepet (…e.)

Sandangan pepet dipakai untuk melambankan vokal /e/ di dalam suku kata. Sandangan pepet ditulis di atas bagian akhir aksara. Apabila selain pepet terdapat sandangan yang lain, sandangan pepet digeser ke kiri. Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Sebab suku kata re yang bukan pasangan dilambangkan dengan pa cerek dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan nga lelet.

Contoh penggunaan sandangan pepet :

segara             segr                      legi                  Xgi   

c.       Sandangan suku (….u )

Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata, atau vocal u yang tidak ditulis dengan aksara swara. Sandangan suku ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang mendapat sandangan itu.

Contoh pengunaan sandangan suku :

watu                wtu                        gunung            gunu=              

d.      Sandangan taling (…[.)

Sandangan taling dipakai untuk melambangkan bunyi vokal e atau e yang tidak ditulis dengan aksara swara e, yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suku kata. Sandangan taling ditulis di depan aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Contoh penggunaan sandangan taling :

kene                 [k[n                   dhewe              [d[w

e.      Sandangan taling tarung ([o)

Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal o yang tidak ditulis dengan aksara swara o, yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suku kata. Sandangan taling tarung ditulis mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Contoh penggunaan sandangan taling tarung :

 bodho              [bo[do              ijo                    ai[jo

 

2.    Sandangan panyigeg wanda (Sandangan konsonan penutup suku kata)

Sandangan penanda konsonan penutup suku kata (sandangan panyigeg wanda) terdiri atas empat mcam, yakni :

a.      Sandagan Wignyan (….h)

Sandangan wignyan adalah penganti sigegag ha yaitu sandangan yang dipakai untuk melambangkan konsonan h penutup suku kata. Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Contoh penggunaan sandangan wignyan : 

gagah              ggh                        cahya               chy

b.      Sandangan Layar (…../)

Sandangan layar adalah pengganti sigegan ra yaitu sandangan yang dipakai untuk melambangkan konsonan r penutup suku kata. Sandangan layar ditulis di atas bagian akhir aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Contoh penggunaan sandangan layar :

pager               pge/                        tirta                  ti/t

c.       Sandangan Cecak (…...=)

Sandangan cecak adalah pengganti sigegan nga yaitu sandangan yang dipakai untuk melambangkan konsonan ng penutup suku kata. Sandangan cecak ditulis di atas bagian akhir aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Contoh penggunaan sandangan cecak : 

jangkah           j=kh                         walang                        wl=

d.      Sandangan Pangkon (…..\)

Sandangan pangkon dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati, aksara konsonan penutup suku kata, atau aksara panyigeg ing wandaSandangan pangkon ditulis di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. Sandangan pangkon dapat dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai, senilai dengan tanda koma di dalam ejaan Latin.

Contoh penggunaan sandangan pangkon :

adus                 afus\                       pangan            pzn\

 

3.    Sandangan wyanjana (Sandangan penanda gugus konsonan)

Menurut Darusuprapta (2002:29), sandangan penanda gugus konsonan merupakan penanda asara konsonan yang diletakkan pada aksara konsonan lain di dalam suatu suku kata. Pendanda gugus konsonan di dalam aksara Jawa terdiri atas lima macam, yakni :

a.      Cakra (…..])

Tanda cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra tersebut. Aksara yang sudah bertanda cakra dapat diberi sandangan selain pepet dan tidak dapat diberi penanda gugus konsonan yang lain. Aksara bertanda cakra yang mendapat pepet diganti dengan keret

Contoh penggunaan cakra :

sasra                ss]                      krawu              k]wu

b.      Keret (….})

Tanda keret dipakai untu melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r yang diikuti vokal e /e atau sebagai pengganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda keret itu.

Contoh penggunaan keret :

kreteg              k}teg\             brengos           b}[zos\

 

c.       Pengkal (…..-)

Tanda pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan laian di dalam suatu suku kata. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal itu.

Contoh penggunaan pengkal :

kyai                  k-ai                    tyas                  t-s\

 

 

GLOSARIUM

 

Aksara adalah suatu sistem simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya untuk mengungkapkan  unsur-unsur yang ekspresif dalam suatu bahasa..

Legana adalah 20 huruf dasar aksara Jawa.

Pasangan adalah 20 huruf pasangan bagi aksara legana.

Sandhangan adalah simbol atau penanda yang dapat digunakan sebagai pengubah vokal dasar aksara legana.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Buku pelatihan untuk siswa

2.      Buku pelatihan untuk guru

3.      Internet

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Perencanaan Pembelajaran Matematika

My Profil